Loading

,

"Surat Untuk Tuhan" part 2 (end)

Oke Tuhan.
Aku tau Kamu paling suka melihat umatMu menangis dan mengadu padaMu.
Kamu tidak akan memberi ujian kepada hambaMu yang tidak sanggup melewatinya.
Tapi,
Kapan aku dapat dispensasi itu Tuhan?
Tawaku, seperdetik saja.
Bahagiaku, sekilas saja.
"membuat orang lain tersenyum dan tertawa adalah hobiku"
Dan aku lupa melanjutkannya.
Membuat orang lain tesenyum dan tertawa adalah hobiku... Dan melegakan jiwaku.
Tapi Tuhan, mana reward ku?

Tuhan,
Bagimu, mengutukku dalam ketidaksempurnaan membuatku terlena dan meneruskan garis itu?
Ooo..Tidak bisa~
Tuhan sadar kan? Tuhan memberiku GIFT untuk dapat membahagiakan orang disekitarku walau dengan sentuhan kecil. Hanya saja, aku terlalu pemilih.

Lingkungan remajaku, diisi dengan kemunafikan saat aku menjadi anak emas di sekolah itu.
Mama,
Saat itu punya jabatan penting di sekolahku. Sebagai guru bidang studi, wali kelas, dan wakil kepala sekolah.
Hidupku berubah.
Tidak ada satupun teman seangkatan ku yang tidak mengenaliku.
Wonder.
Terlebih, saat aku, bersama cinta pertama dipertemukan secara tidak sengaja oleh guruku juga.
Big issue bak selebritis.
Tapi taukah Tuhan?
Aku gamang membedakan topeng dan tulus.
Antara reputasi mempertahankan nilai, dan kebaikan hati berteman dengan ku.

Setelah melepas "golden time", aku kembali terpuruk pada culture shock yang aku terima.
Begitu plural dan aku kembali meredup.
Sekolah impian itu ternyata membuat aku tenggelam pada kebanggaan sesaat saja.
Aku hanya punya masa kelam.
Masa dimana nilaiku begitu jatuh dan aku blank dalam pergaulan.
Bagaimana dengan cinta?
Oh Tuhan,
Aku benar benar tidak pernah bahagia dengan ini.
Setelah pengalaman pertama membuatku begitu benci pada laki-laki karna dikhianati, kerjaku hanya balas dendam.
Yeah. Buah dari kebencian yang aku tanam.
Salah Tuhan?
Gak juga kalau aku yang menjawab.

Sentuhan kecilku, membuat orang lain bahagia.
Itukan Gift dariMu?
Dan aku membuktikannya.

I Love my fam sooo much.
'Keadaan' itu menjadi ujian yang harus dihadapi keluargaku.
Aku capek mencari siapa yang bodoh, karena skali lagi membuatku membenci laki-laki.
Masih setengah perjalanku di sekolah keturunan ini, dan aku harus menghadapi kenyataan pahit.
Alhamdulillah, keluarga ku begitu kuat. Mungkin sentuhan besar dariMu dan Mama "the angel".
Aku bertanya, semua orang bisa melakukan kesalahan, walau fatal, bukan berarti kita menutup pintu kebahagiaan kan?
Kesederhanaan, keramahan dan rasa memiliki yang kuat adalah hikmah dari ujian itu.
Aku mau, mengembalikan kebahagiaan itu, walau tidak semewah dulu. Yang ku inginkan hanya sentuhan kecil yang membesarkan hati siapapun yang menerimanya.
"kejutan 12 teng"
Haha.
Aku pencetusnya. Semua pernah kebagian, termasuk aku sendiri.
Hanya butuh cake kecil dan sebuah lilin yang menjadi saksi, betapa harunya si empunya hari spesial itu.
Sampai pernah suatu kali, papa curhat sama kakak yang lagi jauh di negara tetangga, karna terlewatkan.
"He miss the candle light in the middle night"

"happy mother's day mom"
Aku yang tak pernah lupa. Walau hanya kecupan di pipi dan pelukan bau baru bangun tidur, tapi selalu membuat haru pagi dihari itu.
Mungkin Mama pernah melupakanku di waktu kecil karena kesibukannya.
But i love her more than everything in this world.

Koran pagi yang membuat hatiku bergejolak karena keterima di PTN,
Bangga karena namanya, dan aku diciptakan untuk LUCKY-Mu
Keberanian ku, dan tekadku untuk berubah masih berlanjut Tuhan.
Fakultas Sosial.
Walau aku tidak berhasil mensosialisasi diri seutuhnya.
Tapi aku berhasil menemukan 11 orang lainnya untuk bercengkrama.
Jumlah sahabat terbanyak yang aku miliki, walau sekarang beberapa diantaranya terusik karena gaya bercandaan kami kurang nyambung.
Tapi aku berhasil membuktikan bahwa, mereka bahagia punya teman seperti aku.
Dengan mereka aku bebas menjadi diriku sendiri, akulah badut diantara badut lain.
Lucky-Mu masih berlanjut saat aku bisa mendapat 2 kali beasiswa disana. Dan aku, kesekian kalinya, membantu beban orangtuaku.
Aku terlatih untuk mandiri. Dan bisa me-manage keperluan ku sendiri.
Coba tanya, diantara teman-teman, siapa yang paling sedikit diberi uang sama orangtuanya?
Aku loh Tuhan.
Saat 50rb untuk seminggu itu harus habis karena kusisihkan untuk tugas-tugasku, aku hanya bisa berjalan gontai dari jalanan pasar dan hiruk pikuk sombongnya pengendara itu untuk bisa pulang. Jalan jauh, diiringi mata binal, panas menyengat dan aku sendirian.
Saat bulan sucimu datang, aku sering melewatkan berbuka di jalanan, dengan menelan ludah sendiri karena aku tidak mengira jalanan disulap seperti pasar.
Kurang sinetron apalagi Tuhan?

Diakhir perjuangan fase itu, aku memetik hasil dari usaha keras ku.
Lulus tepat waktu tanpa menambah beban (lagi) dengan ekspresi "mewek" dari mama sewaktu aku menggunakan toga.
Hatiku tergugah saat mama membawa fotoku mengenakan toga berlebel "wisuda berprestasi" kemana-mana.
Sentuhan kecil Tuhan, ia bangga sekali padaku.

Aku kerja keras Tuhan.
Sungguh aku kerja keras untuk mengubah itu semua.
All i want is for everything in the right place,
So everyone is happy, is that too much to ask for?
Mungkin jawabnya engga kalau Kamu yang jawab.
Tapi kalo pertanyaannya di ubah sedikit,
All i want is for everything in the right place,
So I am so happy, is that too much to ask for?
Jawab Tuhan..

Satu hal yang belum dapat ku perbaiki dengan usaha kerasku.
Membuktikan pada mama, bahwa fakultas sosial juga punya rezeki yang luar biasa.
Tapi Tuhan, itu juga masih sinteron bagiku.
Pengalamanku bekerja untuk pertama kalinya, ternoda oleh orang tengik.
Tuhan, jangan biarkan magnet itu begitu dalam menarik siapapun untuk berani mendekatiku.
Salah ya Tuhan aku membalas ramah nya orang padaku karna aku juga berusaha tidak antisosial?
Keluargaku sering bilang, aku seperti pukang yang suka menyendiri.
Waktu kecil, aku sering dicubit sama mama karna gak pernah mau ikut silaturahmi.
Aku minder Tuhan, hingga sekarang.
Pertanyaan yang selaaaaa~lu mereka lontarkan, menyudutkan rasa percaya diriku.
Lagi-lagi tubuh ini. Kenapa dengannya? Kenapa harus menyuruhku banyak makan supaya cepat besar?
Fuck! Walalu bercanda, itu menyakitkanku.
Dan kebanyakan dari mereka, terlalu munafik sampai harus mengejarku dengan ribuan gombal!
Aku harus berusaha menaikkan satu sentimeter bibirku untuk tersenyum.
Usaha antisosialku berantakan setelah itu.

Tuhan.
Aku tau, sentuhan kecilku memberikan efek yang luar biasa, tidak terkecuali pada mereka yang selalu salah mengartikan.
Mereka buta karena itu.
Lagi-lagi Kau memberikan special effect pada hidupku.
Aku tidak mau di-judge salah ketika terlalu memainkan peranku. Aku penyayang Tuhan.
Tercipta dengan memiliki satu adik laki-laki saja membuatku begitu penyayang.

Tapi haruskah melibatkan mereka yang tidak bersalah untuk bisa jatuh cinta padaku Tuhan?
Jatuh cinta padaku, bukan salah, hanya saja aku sangat pemilih Tuhan. Sangat.
Kata orang aku tercipta dengan aura menggoda walau aku hanya diam dan sesekali tersenyum.
Dan jangan sampai terjadi, adikku terpesona padaku.

Tuhan, ditengah kegersangan jiwaku, engkau memberiku oase yang begitu mendamaikan hatiku,
Wajahnya, keluguannya, dan genggaman tanggannya yang tidak pernah hilang saat aku sedang jatuh karena apapun.
Terima kasih Tuhan, Kau mengirimku kado terindah disaat 19 tahun aku hidup di duniaMu.
Tapi, sekarang dia menghilang Tuhan. Walau ada, dia semakin berubah dan jauh berubah.
Tanda-tanda Kau akan menjauhkan ku dari kadoMu?

Tuhan,
Bisakah Kamu sedikit meredam klimaks-klimaks hidupku agar tidak seperti sinetron lagi?
Tuhan aku lelah,
Sangat lelah.
Bila sendiri.

Tuhan,
Satu permohonan,
Bisakah Kau kirimkan aku, seseorang yang selalu ada meminjamkan bahunya saat aku butuh tempat aman untuk menangis, seseorang yang selalu punya jutaan lelucon untuk membuatku tertawa lepas, seseorang yang selalu ada walau hanya untuk mendengar cerita tidak penting ku, dan seseorang yang selalu menjaga keindahan aura muslim ku.
Tuhan, dispensasikan aku dari skenariomu. Dan berikan aku Happy Ending as soon as possible.
Amin.

Leave a Reply