(Die)d dy
"Nak tau ga fadillah nya merawat orang tua?"
"Maksudnya pak?"
"Iya, fadillah nya merawat orang tua"
Gue mikir sejenak karna kurang tau arti fadillah. Setau gue fadillah itu nama adek gue. haha.
Karna bapak itu masih nunggu jawaban gue, akhirnya gue jawab.
"Surga"
"Alhamdulillah, jawabannya seperti itu... Sekolah dimana nak? Udah kelas berapa?"
Hmm, well.. pertanyaan itu selalu muncul kalau seseorang baru pertama kali ketemu gue.
"Udah tamat pak. Udah kerja" Gue menjawab dengan singkat agar tidak ambigu dengan kata 'tamat', bisa lanjutannya tamat SMP? SMU? Kuliah? Panjang.
"Kerja dimana?"
"Asuransi C*R"
"Oh, group BC* ?"
Amazing, mata gue langsung melek ketika bapak setengah baya ini tau kantor gue satu group dengan salah satu Bank terbesar se-Asia.
"Iya pak. Tapi masih jadi pegawai kontrak". Jawab gue sembari tersenyum.
"Kamu S1? Ga ada niatan mau ngajar? Jadi dosen kan enak..ambil S2"
"Waduh, mau sih Pak, tapi ya duit dari mana?"
"Beasiswa ada loh, kamu apply aja, cari info di internet. Papa kamu S1 kan? Mama juga S1. Kalau bisa kita melebihi mereka, S2 lah nak", Ucapnya sambil mengacungkan jempol dan memapah motornya pelan-pelan menuju teras depan rumah.
"Papa kamu rindu teman lama, jadi dia nge-bell bpk tadi. Karna dekat dari sini, bpk mampir" lanjutnya.
"Maaf ya pak ngerepotin. Makasih banyak" Ucap gue sambil gak enak hati.
Malam itu memang gue lagi jaga bokap. Kelar kerja, badan cape pengen tidur tapi harus ngejaga. Ini sikap dah ga manis lagi. Mungkin itu bapak sadar gue ogah-ogahan jaga.
Tapi selesai berpamitan, gue masuk dengan hati yang lega. Gak ngerti kenapa, segala omongan bapak ini nyangkut banget di hati gue. Surga dan S2.
Gue ngerasa udah lama banget dan bahkan ga pernah dapet wejangan seperti itu. Seperti layaknya wejangan yang kita dapat dari orang tua kita, lebih tepatnya seorang ayah.
Gue, seorang gadis yang telah dibesarkan oleh keadaan dimana gue gak kenal dengan figur ayah.
Gue heran dan masih sampai saat ini masih bertanya-tanya. Kenapa ada anak perempuan yang bisa dekat dengan ayahnya? Masih bisa bercanda dengan ayahnya. Masih bisa bergelayut mesra dengan ayahnya? Kenapa yang gue inget, terakhir kali gue gelayutan sama ayah adalah waktu gue SD?
Dan sampai saat ini, saat dia harus berbaring lemah ga berdaya karena ulahnya sendiri, gue juga masih 'benci' dia.
Seharusnya gue gak boleh membenci dia. Harusnya saat ini dia benar-benar menjadi ladang pahala gue. Tapi jujur, gue ga sanggup untuk menggali ladang dan harus memanen-nya.
Sama seperti sikap bokap yang ga pernah bisa kasih kepercayaannya ke istri dan anaknya.
Cuma itu yang gue sesalkan. Gue besar dengan tidak memiliki figur ayah.
Pernah gue mendengar cara mendidik anak yang tepat, khususnya peran seorang ayah.
"Kasih sayang bukan hanya untuk di lakukan, tapi diungkapkan"
Gak semua orang bisa sukses mengkomunikasikan bahasa tubuhnya ketika dia menyayangi seseorang.
Yang paling efektif adalah bahasa verbal. Tulus, say 'i love you dear" sedari kecil sampai kita tidak bisa berbicara lagi.
Mungkin beberapa perlakuan yang tidak akan gue beberkan disini. Tapi yang pasti perlakuan kasar dengan verbal juga tidak pantas terucap. Ayah gue, tipe pendiam dan tidak akan berbicara apabila tidak diperlukan. Eits, itu hanya berlaku saat dia berhadapan dengan anaknya. Saat ia didepan orang lain, jadi berbeda, sangat jauh berbeda.
Dengan pendiamnya itu, gue gak pernah tau apa yang dia fikirkan.
Papa. Dia pernah kena stroke di masa pensiunnya. Saat itu gue kelas 2 SMU.
Detik itu juga hidup gue harus berubah, termasuk cara dia memperlakukan keluarga. Pengaruh obat penekan syaraf yang dia minum, tiap tindakannya selalu membuat gue dan keluarga harus extra sabar. Apalagi dia membiarkan kami terlunta-lunta karna tidak ada uang.
Tak cukup rasanya untuk membuat kami 'belajar' dari keadaan. Dia harus membebani kami dengan sakit tulang yang bergeser setelah ia (lagi lagi) tidak percaya dengan orang lain yang akan membuatkan arus listrik. Harus dia, harus.
Dan harus juga kami menanggung rasa malu. Tiap detik ia minta 'di keloni'. Tapi kesibukan masing-masing keluarga gue untuk menyambung hidup membuat dia kesal. Harus dia, harus dia yang paling pertama di tolongin. Gak selamanya bisa donk. masing-masing ribet dengan masalahnya. Disitulah letak titik nadir gue, beliau menceritakan kefitnahan ke semua orang, termasuk tetangga. Ga ada yang peduli sama dia. Ga ada yang ngerawat dia. Tuhan tau dan ga pernah tidur.
Kalau mau di ukur tingkat stres antara di yang sakit dengan yang menjaga. Lebih stres mana?
Any says Thank You?
Impossible!
Saat ini gue masih bertanya-tanya sama Tuhan.
Tuhan, sampai kapan?
Sampai kapan?







Nda...
Aku nggak pernah tau Nda punya masalah begini...
Aku jadi ngerasa gagal menjadi teman.
Maaf ya Nda.
Selama ini yang aku tau, Nda anak yang supel, manja, kadang pecicilan dan centil. But you're a good friend. Masuk dalam daftar 'teman-teman baik'ku.
Nggak pernah sama sekali aku tahu keadaan Nda yang kayak gini...
Aku emang nggak pernah bertanya tentang keluarga orang-orang lain. Aku memegang prinsip, kalo seseorang nggak mau cerita, aku nggak akan rese' nanya.
Tapi...
Berita ini mengejutkan Nda...
Maaf, karena selama ini aku nggak peduli.
Semoga Allah ngasih Nda kekuatan, kesabaran, dan senantiasa diberikan kebahagiaan ditengah kekacauan.